MAJALAH » Teknologi
Lokasi Makin Akurat via SurroundSense
Senin, 16 November 2009
Ketidakakuratan GPS menentukan lokasi di dalam ruangan mengilhami ilmuwan Universitas Duke membuat sidik jari lokasi berdasar suasana. Fitur ponsel digunakan optimal dalam studi ini.
Ponsel dengan fitur GPS (global positioning system) melahirkan beragam aplikasi baru. Di Amerika Serikat contohnya, layanan GeoLife memungkinkan daftar toko akan muncul di layar ketika ponsel terdeteksi berada di dekat Wal-Mart. Belum lagi iklan berbasis GPS membuat seseorang yang masuk ke Starbucks akan mendapat kupon diskon elektronik pembelian kopi.
Tapi masalahnya, GPS hanya bisa akurat di luar ruangan. Di dalam ruangan, perangkat ini sering mati kutu. Akibatnya, gara-gara hanya berbatasan dinding, dua tempat yang berbeda bisa salah diinformasikan ke pengguna ponsel GPS. Apa jadinya kalau kupon permainan video game nyasar ke konsumen Starbucks gara-gara gedungnya bersebelahan dan berbatasan dinding saja. Alasan inilah yang menyebabkan tiga insinyur Duke University Amerika Serikat yakni Martin Azizyan, Ionut Constandache, dan Roy Choudhury merancang satu sistem sidik jari SurroundSense dengan memanfaatkan suasana suara, cahaya, warna, dan tempat sebagai penanda unik sebuah lokasi. “Atribut ini bisa dirasakan oleh ponsel lewat fitur kamera, mikrofon, dan akselerometer yang bisa digabungkan untuk menentukan lokasi,” seperti diungkapkan dalam paper mereka.
Menurut ketiganya, setiap tempat memiliki suasana yang khas misalnya di Starbucks yang terdengar nyaring adalah suara mesin kopi, microwave, dan dentingan suara sendok dan garpu yang beradu dengan gelas. Sementara di toko yang lain, warna menyolok menjadi pembeda misalnya dominan merah atau kuning. Pergerakan orang di satu tempat biasanya dipengaruhi oleh tata letak dari tempat tersebut, misalnya gerakan orang di supermarket berbeda dengan di restoran ataupun toko buku. “Kita tidak akan dapat banyak informasi dengan satu pengukuran saja, tapi begitu dikombinasikan optis, akustik, dan gerakan menjadi satu sidik jari ruangan yang unik,” kata Ionut Constandache, saat mempresentasikan temuannya di 15th International Conference on Mobile Computing dan Networking di Beijing September lalu seperti dikutip dari www.cellular-news.com.
Pengujian SurroundSense diawali dengan pengguna ponsel mengunjungi toko yang tidak dikenal. Secara otomatis, aplikasi programming Phyton yang dipasang di ponsel akan mengenali suasana. Lalu, suasana tersebut direkam, diproses dan dikirim ke server khusus dan dijadikan bahan di “pabrik” sidik jari (lihat tabel). Proses ini termasuk penyaringan (filtering) dan kesesuaian (matching) data. WiFi, akselerometer, dan sensor suara digunakan sebagai penyaring; warna dan cahaya dipakai untuk proses kesesuaian. Dari proses berliku ini, akan dihasilkan tipe data sensor yang “mewakili” suatu lokasi. Di SurroundSense ini akselerator diatur dengan tingkat 4 readings per detik, audio sampling pada rate 8 kHz, gambar diambil setiap 5 detik dan disetel pada posisi mode sport. Meta file nantinya akan terbentuk dari setiap sidik jari suasana.
Dalam pengujian lapangan terhadap 46 lokasi bisnis di sekitar kampus Duke dan 5 lokasi di India, didapatkan tingkat akurasi rata-rata mencapai 87%. Sample lokasi di India ini untuk mendapatkan variasi sidik jari suasana tanpa ketersediaan Wi-Fi. Nah, kalau sudah begini tak ada lagi informasi nyasar gara-gara GPS tak bisa mendeteksi Anda di dalam ruangan.
selular.co.id
© 2007 PT. Global Selular Media. Hak cipta dilindungi undang-undang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar